Keep Your Mouth Shut & Appreciate


"Ah, kalo gitu doang mah gue juga bisa!"

Pernahkah kita ke suatu pameran seni/desain dan melihat suatu karya, lalu mengucapkan kalimat seperti di atas? Di antara kita mungkin mengucapkannya tanpa sadar, mempertimbangkan betapa sederhananya karya seni yang dipamerkan menurut sudut pandang kita. Beberapa lain dari kita, bisa jadi mengatakannya memang dengan sadar mengandung tendensi kearogansian.

Dulu saya seperti itu, dan saya tidak bisa menyalahkan kalau kebanyakan kita pun berperilaku demikian. Mungkin karena kita ini berasal dari negara berkembang, kompetisi dalam pendidikan dan pekerjaan sangat tinggi, sehingga kita terbiasa menjatuhkan orang lain agar bisa bertahan hidup (hunger games?). Kesenjangan sosial pun tinggi, sebab kita sangat ingin menunjukkan kalau kita sudah naik "kelas".

Mengapresiasi karya orang lain, menjadi sesuatu yang sulit bagi kita. Melihat kesuksesan orang lain, menimbulkan bersit iri dalam hati. "Karya kaya begitu aja kok bisa ya pameran sampe segede gini? Punya koneksi kali dia nih."
Begitulah kita mempertanyakan kesuksesan orang.

Padahal kalau kita ikuti keseharian sang seniman atau desainer tersebut, baru kita tahu betapa kompleksnya brainstorming ide yang ia olah untuk dapat menghasilkan karya yang kita katakan "begitu doang". Apakah kita melihat bahwa dalam setiap karya, ada waktu, tenaga, dan yang terpenting, ide besar yang terkandung di dalamnya?

Lalu kalau kita ingat kembali, bukankah kurangnya apresiasi dari bangsa sendirilah yang membuat B.J Habibie memilih berkarya di Jerman selama bertahun-tahun? Kita sama sekali tidak punya kuasa untuk menghakimi mereka yang berkarya di luar negeri karena memang kita ini kurang memahami makna apresiasi. Sama seperti Demian yang tengah menjadi momok olok-olok. Terlepas dari akting sang istri yang ramai dikatakan lebay, bukankah kita patut mengapresiasi ide yang dia hadirkan dalam setiap pertunjukannya?

Belum lama ini, saya melakukan face painting di sebuah mall di Sydney. Ketika saya sedang melukis wajah seorang anak, ada seorang gadis kecil yang juga ingin dilukis. Dia datang bersama ibunya dan duduk di depan saya sambil menunggu giliran. Sambil memperhatikan saya dengan antusias, dia berkata kepada ibunya,

"Mom, look it's so easy! I think I can do it my self."

Gadis itu barangkali 8 tahun umurnya, rambutnya pirang dan matanya biru. Ibunya menjawab,

"I don't think so honey, it looks easy because she's really good at it. I think you can do it if you practice as much as her too."

Setelah itu, mereka bertanya bagaimana saya latihan, apakah saya menemukan kesulitan atau tidak. Saya melihat percakapan itu sebagai contoh mengajarkan anak belajar menghargai dan tidak menganggap remeh apa yang orang lain lakukan.

Ini membuat saya berpikir, seberapa sering saya mengapresiasi pekerjaan orang lain? Seperti ketika kita datang ke restoran, kita menganggap membersihkan meja memang pekerjaan waitress sehingga kita tidak ucapkan terima kasih. Bukan pula karena saya haus apresiasi, melainkan karena saya tahu bahwa hal sekecil itu bisa memberi kebahagiaan yang besar bagi orang lain yang telah bersusah payah.

Bukan ingin menjelekkan bangsa sendiri, namun memang kenyataannya saya pun merasa lebih diapresiasi ketika berkarya di luar lingkaran Indonesia. Mengapa harus begini?

Saya ingin terus lebih belajar menghargai apa yang orang lain lakukan dan mengingatkan diri saya,

"Oke syah, mungkin saat ini kamu pikir kamu bisa melakukan apa yang dia lakukan. Tapi toh kenyataannya, bukan kamu yang lakukan kan? Then keep your mouth shut and appreciate."

.

Komentar

Postingan Populer