"Eh, ini halal kan?"
Kemarin saya pergi berdua dengan suami untuk mengunjungi saudara di daerah Depok. Sebelum ke rumah saudara, kita sempat mampir ke Margo City untuk melihat-lihat beberapa barang. Selain itu kita berencana untuk makan sushi, karena sudah beberapa hari terakhir memang lagi ingin sekali. Setelah beberapa putaran thawwaf di mall tersebut, kita memutuskan untuk makan di restoran jepang yang ada di dalam mall saja supaya mudah. Namanya ichiban sushi.
Menu yang dipajang di depan resto pun kita lihat-lihat dan slurrp boleh juga nih. Ketika baru saja saya ingin duduk, suami tiba-tiba teringat sesuatu,
"Eh, ini halal kan?"
Duh. Halal ga yaa. Saya deg-degan mau nanya ke mbanya, antara dua sih. Kalau ga halal, berarti harus pindah restoran, padahal sudah males gerak. Yang kedua kalau ga halal, bisa terancam ga jadi makan sushi. Lalu saya teringat di sepanjang jalan margonda lumayan banyak restoran sushi. Jadi kalau ini ga halal, ya sudah deh cari tempat lain.
Akhirnya saya beranikan diri nyamperin mba waitressnya dan tanya dengan suara pelan. Karena saya memang ingin bertanya untuk informasi pribadi. Kalau dengan suara keras, khawatir dipikirnya saya ingin menjatuhkan bisnis orang di depan customer lain.
"Misi mba, sori nih mba sebelumnya saya mau tanya. Ini ada sertifikat halalnya ga ya?" tanya saya setengah berbisik.
Di luar dugaan, respon mbanya baik sekali. Dan jawabannya pun juga di luar dugaan.
"Oh di sini kalau untuk sertifikat halal memang tidak ada kak. Karena di sushinya kita menggunakan ****** (saya lupa dia sebut namanya apa, saya juga kurang paham sih). Tapi kita bisa ganti dengan menggunakan nasi biasa, kalau kakak mau," jelas si mbanya.
Sejujurnya saya ga paham dengan bahan yang dia sebutkan, dan saya lupa juga namanya apa. Yang jelas, percakapan di atas saya tulis persis sebagaimana adanya. Dan yang jelas juga, oh berarti ada bahan yang ga halal di situ yang menurut mbanya, bisa diganti dengan nasi biasa.
"Tapi peralatan untuk bikinnya gimana mba? Sama dengan yang lainnya berarti ya?"
"Kalau itu iya kak," kata si mbanya lagi sambil nyengir.
Duh gusti, bingung saya. Kemudian kita minta maaf sama mbanya karena kita ragu-ragu dan sesuatu yang meragukan kan lebih baik ditinggalkan. Kita cabut mau coba cari resto sushi yang di sepanjang jalan margonda aja. Bye bye ichiban sushi, saya melangkah sambil menatap para customer yang rata-rata pakai jilbab. Ah, andai mereka tau.
Saya udah lama banget ga ke depok kan, tapi seinget saya ada Steamboat sushi house, sushi miya81, sama Takarajima. Singkat cerita, kita ke takarajima karena saya kurang suka interior sushi miya81 yang full cat merah membuat saya merasa tertekan, dan Sushi house kelewatan gitu deh sementara puter balik di margonda tau sendiri hehe.
Takarajima ini resto sushi semasa kuliah banget karena lokasinya deket dari gang kober, gang menuju stasiun UI. Pokoknya zaman kuliah dulu, kalau lagi pengen sushi dan gamau repot, ya takarajima. Saya dengan pedenya langsung duduk dan liat-liat menu, sampai suami tiba-tiba ngingetin lagi.
"Eh, ini halal kan?"
Ya Allah. Aaah lupa banget nanya tadi ke masnya, mana sekarang udah ngiler abis liat menu. Kita panggillah si masnya, mengulang pertanyaan yang sama dengan di atas. Ini jawaban masnya,
"Di sini belum ada kak untuk sertifikat halalnya. Soalnya kita menggunakan ***** (lagi-lagi saya lupa namanya apa), itu di kuah ramennya. Selain itu juga kita pake alkohol di sauce mirinnya. Tapi kalau kakak mau, bisa kita ganti soya sauce. Kalau restoran Jepang memang rata-rata pake itu kak,"
Jeng jeng. Jadi selama ini? Betapa apatisnya saya sebagai customer. Karena di Indonesia mayoritas penduduk muslim, kita berasumsi segala sesuatu pasti halal. Kita tidak terusik untuk sekedar bertanya pertanyaan sesimpel itu. Padahal kita punya hak untuk tahu apa yang kita makan. Untuk mengenal bahan-bahan baik yang halal atau yang haram, yang masuk ke tubuh kita.
Saya belajar ini justru setelah saya tinggal di Sydney. Bahkan saya sempat berpikir, jangan-jangan malah lebih mudah menemukan makanan halal di sana dibanding di sini hehe. Jadi teringat Fujiyama, restoran jepang halal di Sydney. Lokasinya di Bankstown, basis komunitas timur tengah. Ada juga sushi hub, dan satu lagi saya lupa namanya. Karena pasar di suburb situ banyak muslim, penjual pun mengkondisikan bisnisnya menjadi halal. Mereka mengurus sertifikat halal dan menanganinya dengan serius. Karena customernya pun aware dengan itu. Karena customernya paham hak sebagai customer, bertanya sebelum membeli. Dan pebisnis pun, mau tidak mau menyesuaikan keinginan customer.
Saya belajar dari fenomena itu, bahwa pasar bisa memaksa pebisnis untuk menyediakan produk yang dibutuhkan oleh pasar, secara transparan. Kita butuh restoran jepang halal di sini. Kita lah yang harus memaksa para pebisnis itu untuk menjadikan restoran mereka halal, jika pasar mereka memang kita. Kalaupun mereka memang tidak mau menjadikan restorannya memiliki label halal, setidaknya harus ada transparansi di situ. Dan itu berarti, pasar mereka bukan kita.
Tulisan ini ditulis bukan untuk memojokkan pebisnis manapun. Kalau ada yang keliru, bijak kiranya saya diingatkan. Saya pun punya secuil harap, atas transparansi jual beli di negeri ini.
Dan begitulah, lagi-lagi saya belajar hari ini. Untuk menjadi customer yang baik. Karena lagi-lagi, kita punya hak untuk bertanya pertanyaan sesimpel itu,
"Eh, ini halal kan?"
***update***
Restoran sushi halal di Jakarta setelah cari di gugel:
1. Sushi Bar
2. Sushi Miya81
3. D'sushi bodo
Boleh ditambahin listnya kalau ada yang tau lagi :)
Menu yang dipajang di depan resto pun kita lihat-lihat dan slurrp boleh juga nih. Ketika baru saja saya ingin duduk, suami tiba-tiba teringat sesuatu,
"Eh, ini halal kan?"
Duh. Halal ga yaa. Saya deg-degan mau nanya ke mbanya, antara dua sih. Kalau ga halal, berarti harus pindah restoran, padahal sudah males gerak. Yang kedua kalau ga halal, bisa terancam ga jadi makan sushi. Lalu saya teringat di sepanjang jalan margonda lumayan banyak restoran sushi. Jadi kalau ini ga halal, ya sudah deh cari tempat lain.
Akhirnya saya beranikan diri nyamperin mba waitressnya dan tanya dengan suara pelan. Karena saya memang ingin bertanya untuk informasi pribadi. Kalau dengan suara keras, khawatir dipikirnya saya ingin menjatuhkan bisnis orang di depan customer lain.
"Misi mba, sori nih mba sebelumnya saya mau tanya. Ini ada sertifikat halalnya ga ya?" tanya saya setengah berbisik.
Di luar dugaan, respon mbanya baik sekali. Dan jawabannya pun juga di luar dugaan.
"Oh di sini kalau untuk sertifikat halal memang tidak ada kak. Karena di sushinya kita menggunakan ****** (saya lupa dia sebut namanya apa, saya juga kurang paham sih). Tapi kita bisa ganti dengan menggunakan nasi biasa, kalau kakak mau," jelas si mbanya.
Sejujurnya saya ga paham dengan bahan yang dia sebutkan, dan saya lupa juga namanya apa. Yang jelas, percakapan di atas saya tulis persis sebagaimana adanya. Dan yang jelas juga, oh berarti ada bahan yang ga halal di situ yang menurut mbanya, bisa diganti dengan nasi biasa.
"Tapi peralatan untuk bikinnya gimana mba? Sama dengan yang lainnya berarti ya?"
"Kalau itu iya kak," kata si mbanya lagi sambil nyengir.
Duh gusti, bingung saya. Kemudian kita minta maaf sama mbanya karena kita ragu-ragu dan sesuatu yang meragukan kan lebih baik ditinggalkan. Kita cabut mau coba cari resto sushi yang di sepanjang jalan margonda aja. Bye bye ichiban sushi, saya melangkah sambil menatap para customer yang rata-rata pakai jilbab. Ah, andai mereka tau.
Saya udah lama banget ga ke depok kan, tapi seinget saya ada Steamboat sushi house, sushi miya81, sama Takarajima. Singkat cerita, kita ke takarajima karena saya kurang suka interior sushi miya81 yang full cat merah membuat saya merasa tertekan, dan Sushi house kelewatan gitu deh sementara puter balik di margonda tau sendiri hehe.
Takarajima ini resto sushi semasa kuliah banget karena lokasinya deket dari gang kober, gang menuju stasiun UI. Pokoknya zaman kuliah dulu, kalau lagi pengen sushi dan gamau repot, ya takarajima. Saya dengan pedenya langsung duduk dan liat-liat menu, sampai suami tiba-tiba ngingetin lagi.
"Eh, ini halal kan?"
Ya Allah. Aaah lupa banget nanya tadi ke masnya, mana sekarang udah ngiler abis liat menu. Kita panggillah si masnya, mengulang pertanyaan yang sama dengan di atas. Ini jawaban masnya,
"Di sini belum ada kak untuk sertifikat halalnya. Soalnya kita menggunakan ***** (lagi-lagi saya lupa namanya apa), itu di kuah ramennya. Selain itu juga kita pake alkohol di sauce mirinnya. Tapi kalau kakak mau, bisa kita ganti soya sauce. Kalau restoran Jepang memang rata-rata pake itu kak,"
Jeng jeng. Jadi selama ini? Betapa apatisnya saya sebagai customer. Karena di Indonesia mayoritas penduduk muslim, kita berasumsi segala sesuatu pasti halal. Kita tidak terusik untuk sekedar bertanya pertanyaan sesimpel itu. Padahal kita punya hak untuk tahu apa yang kita makan. Untuk mengenal bahan-bahan baik yang halal atau yang haram, yang masuk ke tubuh kita.
Saya belajar ini justru setelah saya tinggal di Sydney. Bahkan saya sempat berpikir, jangan-jangan malah lebih mudah menemukan makanan halal di sana dibanding di sini hehe. Jadi teringat Fujiyama, restoran jepang halal di Sydney. Lokasinya di Bankstown, basis komunitas timur tengah. Ada juga sushi hub, dan satu lagi saya lupa namanya. Karena pasar di suburb situ banyak muslim, penjual pun mengkondisikan bisnisnya menjadi halal. Mereka mengurus sertifikat halal dan menanganinya dengan serius. Karena customernya pun aware dengan itu. Karena customernya paham hak sebagai customer, bertanya sebelum membeli. Dan pebisnis pun, mau tidak mau menyesuaikan keinginan customer.
Saya belajar dari fenomena itu, bahwa pasar bisa memaksa pebisnis untuk menyediakan produk yang dibutuhkan oleh pasar, secara transparan. Kita butuh restoran jepang halal di sini. Kita lah yang harus memaksa para pebisnis itu untuk menjadikan restoran mereka halal, jika pasar mereka memang kita. Kalaupun mereka memang tidak mau menjadikan restorannya memiliki label halal, setidaknya harus ada transparansi di situ. Dan itu berarti, pasar mereka bukan kita.
Tulisan ini ditulis bukan untuk memojokkan pebisnis manapun. Kalau ada yang keliru, bijak kiranya saya diingatkan. Saya pun punya secuil harap, atas transparansi jual beli di negeri ini.
Dan begitulah, lagi-lagi saya belajar hari ini. Untuk menjadi customer yang baik. Karena lagi-lagi, kita punya hak untuk bertanya pertanyaan sesimpel itu,
"Eh, ini halal kan?"
***update***
Restoran sushi halal di Jakarta setelah cari di gugel:
1. Sushi Bar
2. Sushi Miya81
3. D'sushi bodo
Boleh ditambahin listnya kalau ada yang tau lagi :)
hahaha... same here, baru parno sama halal/ga setelah pulang dari jepang krn dikit2 semua mesti dicek. itu yg **** maksudnya rice wine vinegar ya?
BalasHapusYg ***** itu bukan rice wine vinegar, gatau apa mba, sesuatu di sushi kayanya. Yang kedua itu sepertinya sesuatu di ramen. Maafkan pengetahunku yg minim. Kalo rice wine vinegar itu yg mirinnya bukan ya? *have no idea
HapusMirin mungkin ya?
BalasHapusMirin
BalasHapusYah, dulu dengan santai nya mkn di tarakajima ampuni Ya Allah
BalasHapusSushi tei sudah bersertifikat halal min, ichiban memang belum, tapi sdh berkomitmen menggunakan produk halal dan sedang didaftarkan
BalasHapus