Berpuasa 21 jam?

Hari ini kita memasuki ramadhan hari pertama. Ini ramadhan pertama saya di Sydney dan saya rupanya cukup mendapat kemudahan dengan jatuhnya bulan ramadhan pada musim dingin. Yap, saya hanya akan berpuasa selama 9 jam 56 menit. Subuh dimulai pukul 5.30 am dan magrib pukul 04.54 pm.

Bertepatan dengan saya menulis status tentang puasa saya yang singkat tersebut di laman facebook saya, seorang teman juga menulis status bahwa dia akan berpuasa selama 20 jam di UK. May Allah bless her efforts snd accept her prayers.

Lalu saya melihat semacam time comparison waktu puasa berbagai negara di dunia. Sydney menempati urutan puasa tercepat dengan waktu kurang dari 10 jam. Sementara Islandia menempati urutan terlama dengan waktu puasa mencapai hingga 22 jam!

Melihat tabel ini, rasa penasaran saya pun muncul. Dengan waktu puasa 22 jam dan menyisakan hanya 2 jam, bagaimana mereka berbuka, sholat tarawih, dan sahur dalam waktu yang super singkat ini? Belum lagi jika sampai pada puncak musim panas, matahari bahkan dapat tidak menampakkan diri sepenuhnya dalam 24 jam.

Seorang paman dari suami saya pernah tinggal di Finlandia untuk beberapa waktu karena pekerjaan, dia juga sempat mengalami momen berpuasa di sana. Namun kala itu ramadhan jatuh pada musim dingin (good for him). Saat musim dingin tersebut, dia berpuasa kurang dari 9 jam (belum puncak winter).

Menurut penuturannya, jika ramadahan jatuh pada puncak musim panas, maka waktu berpuasa bisa mencapai hingga lebih dari 21 jam. Dalam kondisi demikian ada dua pilihan yang dimiliki oleh umat muslim Finlandia. Tetap berpuasa mengikuti waktu lokal atau merujuk kepada negara muslim terdekat yang batas antara siang dan malamnya masih dapat dibedakan, yaitu Saudi Arabia, Mesir, atau Turki.

Keputusan untuk mengikuti waktu lokal ataupun mengikuti negara muslim terdekat ini akan diumumkan oleh ulama setempat. Akan tetapi banyak juga umat muslim Findlandia yang tidak mengikuti keputusan ulama setempat. Apabila ulama setempat memutuskan untuk merujuk pada waktu Saudi Arabia, maka akan tetap ada umat muslim yang berpuasa mengikuti waktu lokal.

Perbedaan pendapat dalam melaksanakan ibadah memang bukan lagi hal baru. Tapi saya pribadi lebih condong kepada tindakan mengikuti keputusan ulama setempat. Pertama karena islam adalah agama yang memudahkan.

Kedua, karena ayat Allah yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS An Nisaa [4]:59)

Dalam hal ini, ulil amri adalah ulama setempat yang memiliki kapasitas ilmu yang memadai. Saat mereka membuat keputusan, saya meyakini mereka telah melalui proses pengkajian yang dalam. Dan jikapun pendapat pribadi kita tidak sesuai dengan ulama tersebut, maka seperti yang tercantum pada ayat di atas yaitu kita harus mengembalikannya pada Al-Quran dan Sunnah.

Pertanyaannya adalah, apakah pemahaman tafsir kita memang lebih dalam dari ulama setempat sedemikian sehingga kita merasa sudah lebih benar?

Saya sih tidak. Karena itulah saya akan mengikuti ulama setempat. Lain cerita jika ulama setempat adalah ulama dari golongan yang mengalami kesesatan berpikir seperti syiah. Begitulah yang sejauh ini saya yakini.

Saya juga sempat membaca sebuah blog tentang pengalaman seseorang yang tinggal di UK dan berjuang berpuasa selama 21 jam setiap harinya. Berbuka puasa, sholat magrib, sholat isya, terawih, dan kemudian sahur kembali harus dilakukan dalam waktu hanya tiga jam.

Waktu yang amat singkat tersebut kemudian membuatnya memutuskan untuk tidak makan sahur lagi karena masih merasa kenyang setelah berbuka. Itu berarti makan sekali sehari. Namun dengan perencanaan menu yang seimbang dan kaya gizi, dia tidak kalah oleh lapar dan dahaga.

Mungkin kita yang seringkali mengeluh, harus mencoba melewati perjuangan yang sama. Bahkan mungkin perjuangan itu tak seberapa dibanding perjuangan berperang saat lapar dan haus, seperti Perang Badr.

Sydney, 18 Juni 2015

Komentar

Postingan Populer