Dilema Sertifikasi Halal

Tidak terasa sudah lama sekali saya tidak bercerita. Banyak sekali peristiwa yang sudah terjadi dalam dua bulan ini. Di antaranya, saya saat ini sudah tidak lagi bekerja part time di kafe yang sebelumnya saya sering ceritakan. Alasannya cukup simpel, karena identitas kehalalan makanannya.

Selama saya bekerja di sana, saya seringkali mengalami dilema dalam hati ketika harus menyajikan meal yang berkonten bacon. Ditambah lagi suatu ketika ada pasangan paruh baya yang hendak memesan makanan. Sang istri mengenakan hijab. Sebelum memesan, mereka memanggil saya. Mereka hendak memesan chicken snitzel, tapi mereka bertanya,

"Is this restaurant halal?"

Saya tegas menjawab, "No sir this restaurant is not halal."

Di tengah-tengah percakapan itu, tiba2 pemilik resto datang dan bertanya ada masalah apa. Saya bilang bahwa mereka bertanya perihal kehalalan makanan kita. Saya kaget ketika tiba2 Kim (pemilik resto) berkata,

"Yes yes we are halal Sir. We have the sertification of halal."

Dalam hati: What? Sertifikat halal apaan? Orang gue tiap hari liat lu bikin bacon.

"Can i see the sertificate please?" tanya sang istri.
"Of course, i will bring for you dont worry."

Kim masuk ke dalam kitchen, membuka salah satu laci, saya memperhatikan dengan super penasaran. Dan benarlah dia mengeluarkan sebuah sertifikat halal yang bertuliskan nama resto tempat saya dulu bekerja itu. Di tengah saya yang masih ternganga, akhirnya pasangan tersebut memesan chicken snitzel.

Ketika makanan sudah siap, saya menyajikan dengan sangat berat hati dan menahan air mata. Setelah itu saya kembali ke kitchen dan mengkonfrontasi pemilik restoran secara langsung.

"I am sorry but i'm kinda confused right now. If you dont mind please tell me what kind of halal certification was that. Because as far as i could see, our food is not halal."

Dia pun menunjukkan sertifikat tersebut, dan baru disitulah saya menyadari bahwa sertifikasi halal tersebut adalah sertifikasi yang menerangkan bahwa daging ayam dan sapi yang digunakan sebagai bahan baku adalah daging yang disuplai dari pemotongan hewan halal. That's it. Menyadari hal itu, saya berusaha sebisa mungkin untuk memberikan pemahaman pada mereka bahwa "halal" bukan hanya soal daging yang digunakan. Melainkan juga tentang proses pembuatannya,

"If you wanna make a halal meal, you cant use the same grill that you use for bacon. And halal is not only about the meat. Rum, alcohol, there are a lot of ingredients that you can't put in order to cook a halal meal."

"Yea but people here dont care, they only ask about the meat. Is this bacon or lamb. Is the meat halal or not. They never asked about the process or the tools i use in making the food."

At that point, i knew there's no use to argue any further because he just simply didnt understand what halal means. Dan ini memberi saya pengetahuan untuk lebih berhati-hati. Karena di Sydney ini sebenarnya bisa dibilang memang cukup mudah untuk menemukan restoran yang memajang sertifikat halal, saya pun langsung makan-makan saja. Tapi sejak kejadian itu, saya selalu double check apakah sertifikat halal itu hanya sertifikat halal suplier daging, atau memang sertifikat halal resto yang terintegrasi.

Membingungkan memang karena pemilik usahanya sendiri tidak mengerti konsep halal, namun mereka ingin menggaet para muslim sebagai pasarnya juga. Akhirnya sertifikat halal daging pun disalah artikan sebagai sertifikat halal resto.

Kalau sudah begini, memang harus kita sebagai konsumen yang lebih berhati-hati dan memberi edukasi kepada mereka sebagai pemilik bisnis.

Anyways.



Komentar

Postingan Populer