Kebohongan berangsur nyata
"If you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed."
Kalimat di atas adalah kata-kata cukup terkenal yang pernah dilontarkan oleh Adolf Hitler. Intinya, kebohongan yang diulang secara terus menerus akan dipercaya menjadi sebuah kenyataan. Pernyataan ini ada kaitannya dengan peristiwa yang saya alami siang ini.
Kecewa adalah kata sifat yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Cerita dimulai saat saya pergi ke pasar dekat rumah untuk membeli kancing bungkus. Pasar tersebut baru saja mengalami (lagi) renovasi besar-besaran yang membuat saya jadi agak sedikit bingung mencari toko-toko yang biasanya ada di lokasi tertentu.
Setelah berpanas-panas ria, akhirnya saya menemukan lokasi baru tempat para penjahit-penjait dan toko bahan-bahan berada. Saya langsung menuju salah satu toko dan memesan empat buah kancing bungkus. Sebagai orang yang tidak bisa diam, saya tidak sanggup untuk duduk saja di kursi yang disediakan oleh si abang kancing sambil menunggu dia mengerjakan pesanan saya. Bangun dari kursi, saya melihat-lihat keliling toko sekitar.
Tepat di depan si toko kancing adalah, toko kain.
"Ah iseng ah liat-liat," pikir saya.
Saya pun menuju ke toko kain. Toko ini sangat jauh dari ukuran besar, hanya ada beberapa stok barang dan penjaga-penjaganya yang mengobrol karena sepi pembeli. Tangan saya pun tidak bisa berhenti bergerak untuk merasakan tekstur-tekstur kain yang terhampar. Lalu teringat saya sedang mencari bahan linen.
"Linen ada bang?" tanya saya sambil meraba-raba sebuah bahan berkarakter lemas, katun rayon.
"Itu linen," jawab si abang sambil menunjuk ke arah saya.
"Mana bang?" saya menengok ke belakang, mengira maksud si abang mungkin di balik badan saya.
"Itu yang dipegang mba."
"Mana sih bang?" saya masih bingung karena merasa hanya sedang menggenggam satu bahan, dan itu bukan linen.
"Yang di tangan mba itu linen, nih banyak pilihan warna di bawahnya." jelas si abang santai sembari menunjukkan warna-warna lain dari katun rayon yang saya pegang.
"Linen? Lah ini mah bukannya rayon bang?" saya makin bingung.
"Linen itu mba. Percaya sama saya." kata dia lagi.
"Iya mba, rayon itu mah nama lainnya linen. Sama aja sebenernya rayon sama linen." tiba-tiba seorang penjaga lain menghampiri dan ikut berusaha menjelaskan demi meyakinkan saya.
Lah....?
"Sejak kapan rayon sama dengan linen bang? Yang satu lemes, yang satu kaku. Seratnya juga beda banget,", saya jadi penasaran.
"Kalo yang kaku karena belum dicuci aja itu mba ," penjaga yang satunya menimpali lagi dan sekilas saya tangkap dia memutar matanya seperti menghindari tatapan saya.
Saya serta merta nyengir mendengar penjelasan tersebut dan karena sudah semakin tidak masuk akal, saya akhirnya melipir pergi seraya melontarkan kata-kata andalan,
"Oh gitu ye bang, iya deh makasih yaa,"
Entah apakah saya berpikiran buruk, atau mereka memang tidak paham dengan barang dagangan mereka sendiri. Tapi kalau memang mereka berniat menipu, ehem juga caranya. Saya berusaha diyakinkan terus menerus, dikepung dengan pendapat dari dua penjaga seolah apa yang mereka utarakan adalah fakta.
Saya jadi membayangkan apabila saya pada saat itu tidak tahu bahan linen seperti apa, pasti saya sudah membeli bahan rayon karena terdoktrin itu adalah linen. Bahkan jika saya sudah tahu linen seperti apa pun, tidak tertutup kemungkinan saya akan terpengaruh si abang kain, karena merasa "Oh mungkin dia lebih paham, kan dia yang jualan". Apalagi dengan suplai dukungan dari rekannya yang bisa membuat saya terlihat seperti sekedar pembeli sok tahu.
Begitulah, seringkali pendapat-pendapat sekitar membuat kita ragu pada apa yang sesungguhnya kita yakini. Kebohongan-kebohongan yang berseliweran, membuat kita goyah pada apa yang kita percaya sebagai benar. Kita semakin sulit membedakan mana coklat, mana tahi kucing. Terus menerus tergempur, hingga ketika kita menatap tahi kucing, mulailah kita bertanya,
"Mungkinkah ini sebenarnya coklat?"
Detik itulah,
kebohongan berangsur nyata.
Kalimat di atas adalah kata-kata cukup terkenal yang pernah dilontarkan oleh Adolf Hitler. Intinya, kebohongan yang diulang secara terus menerus akan dipercaya menjadi sebuah kenyataan. Pernyataan ini ada kaitannya dengan peristiwa yang saya alami siang ini.
Kecewa adalah kata sifat yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Cerita dimulai saat saya pergi ke pasar dekat rumah untuk membeli kancing bungkus. Pasar tersebut baru saja mengalami (lagi) renovasi besar-besaran yang membuat saya jadi agak sedikit bingung mencari toko-toko yang biasanya ada di lokasi tertentu.
Setelah berpanas-panas ria, akhirnya saya menemukan lokasi baru tempat para penjahit-penjait dan toko bahan-bahan berada. Saya langsung menuju salah satu toko dan memesan empat buah kancing bungkus. Sebagai orang yang tidak bisa diam, saya tidak sanggup untuk duduk saja di kursi yang disediakan oleh si abang kancing sambil menunggu dia mengerjakan pesanan saya. Bangun dari kursi, saya melihat-lihat keliling toko sekitar.
Tepat di depan si toko kancing adalah, toko kain.
"Ah iseng ah liat-liat," pikir saya.
Saya pun menuju ke toko kain. Toko ini sangat jauh dari ukuran besar, hanya ada beberapa stok barang dan penjaga-penjaganya yang mengobrol karena sepi pembeli. Tangan saya pun tidak bisa berhenti bergerak untuk merasakan tekstur-tekstur kain yang terhampar. Lalu teringat saya sedang mencari bahan linen.
"Linen ada bang?" tanya saya sambil meraba-raba sebuah bahan berkarakter lemas, katun rayon.
"Itu linen," jawab si abang sambil menunjuk ke arah saya.
"Mana bang?" saya menengok ke belakang, mengira maksud si abang mungkin di balik badan saya.
"Itu yang dipegang mba."
"Mana sih bang?" saya masih bingung karena merasa hanya sedang menggenggam satu bahan, dan itu bukan linen.
"Yang di tangan mba itu linen, nih banyak pilihan warna di bawahnya." jelas si abang santai sembari menunjukkan warna-warna lain dari katun rayon yang saya pegang.
"Linen? Lah ini mah bukannya rayon bang?" saya makin bingung.
"Linen itu mba. Percaya sama saya." kata dia lagi.
"Iya mba, rayon itu mah nama lainnya linen. Sama aja sebenernya rayon sama linen." tiba-tiba seorang penjaga lain menghampiri dan ikut berusaha menjelaskan demi meyakinkan saya.
Lah....?
"Sejak kapan rayon sama dengan linen bang? Yang satu lemes, yang satu kaku. Seratnya juga beda banget,", saya jadi penasaran.
"Kalo yang kaku karena belum dicuci aja itu mba ," penjaga yang satunya menimpali lagi dan sekilas saya tangkap dia memutar matanya seperti menghindari tatapan saya.
Saya serta merta nyengir mendengar penjelasan tersebut dan karena sudah semakin tidak masuk akal, saya akhirnya melipir pergi seraya melontarkan kata-kata andalan,
"Oh gitu ye bang, iya deh makasih yaa,"
Entah apakah saya berpikiran buruk, atau mereka memang tidak paham dengan barang dagangan mereka sendiri. Tapi kalau memang mereka berniat menipu, ehem juga caranya. Saya berusaha diyakinkan terus menerus, dikepung dengan pendapat dari dua penjaga seolah apa yang mereka utarakan adalah fakta.
Saya jadi membayangkan apabila saya pada saat itu tidak tahu bahan linen seperti apa, pasti saya sudah membeli bahan rayon karena terdoktrin itu adalah linen. Bahkan jika saya sudah tahu linen seperti apa pun, tidak tertutup kemungkinan saya akan terpengaruh si abang kain, karena merasa "Oh mungkin dia lebih paham, kan dia yang jualan". Apalagi dengan suplai dukungan dari rekannya yang bisa membuat saya terlihat seperti sekedar pembeli sok tahu.
Begitulah, seringkali pendapat-pendapat sekitar membuat kita ragu pada apa yang sesungguhnya kita yakini. Kebohongan-kebohongan yang berseliweran, membuat kita goyah pada apa yang kita percaya sebagai benar. Kita semakin sulit membedakan mana coklat, mana tahi kucing. Terus menerus tergempur, hingga ketika kita menatap tahi kucing, mulailah kita bertanya,
"Mungkinkah ini sebenarnya coklat?"
Detik itulah,
kebohongan berangsur nyata.
Komentar
Posting Komentar