Memenangkan Hati

Semarak pilkada DKI akhir2 ini membuat saya berpikir tentang hati. Saya hampir tidak pernah posting tentang politik, tapi pikiran kali ini rasanya boleh juga dituliskan, untuk kontemplasi diri.

Sebelum dimulai, saya ingin bercerita sedikit tentang seorang profesor, beliau dosen ibu saya ketika kuliah dulu. Ibu saya pernah bercerita kalau dosen ini adalah salah satu favoritnya, dari sisi akademis dan interaksi sosial. Seorang profesor juga tentu sangat cerdas dan diakui intelektualitasnya. Singkat cerita, beberapa belas tahun kemudian saya juga masuk kampus yang sama dan bertemu dosen yang diceritakan tersebut, meski beda jurusan.

Rupanya, Beliau kini menjadi salah satu jamaah Lia Eden. Yes, Lia Eden yang itu. Mohon googling untuk memperdalam siapakah sosok Lia Eden. Intinya, tidak habis pikir saya bagaimana seorang profesor dengan tingkat kapasitas logika yang tinggi, bisa menjadi pengikut seorang wanita yang mengaku sebagai Nabi dan di lain waktu mengaku ibu Nabi Isa? Beloknya hati sepertinya memang lepas dari kuasa jasad dan pikiran. Saat hati terbelok, Jasad hanya akan mengikuti, pikiran pun hanya akan membenarkan segalanya. Logika? Pergi piknik entah kemana.

Tapi hati adalah kunci pemenangan. Memenangkan seseorang, memenangkan beasiswa, bahkan memenangkan pilkada ini. Hati yang terbelok, adalah hati yg tersentuh. Pertanyaannya, tersentuh oleh apa? Orang bilang, dengarkan kata hati. Tapi rasa-rasanya semakin kini kita harus hati-hati dengan hati, karena ini era pemenangan hati. Pencitraan hadir untuk memenangkan hati calon pemilih. Segala cara dilakukan utk memenangkannya, media tipu2, data tipu2, semua demi menyentuh hati.

Saat sales berjualan panci, mereka berusaha memenangkan hati kita. Saat calon suami mengajak menikah, dia berusaha memenangkan hati kita. Saat calon pemimpin hendak dipilih, mereka berusaha memenangkannya juga.

Mungkin agak liar untuk berpikir, ini bukan lagi era kita hidup utk mempercayai hati kita sendiri. Yakinkah hati kita tersentuh oleh hal yg benar? Hati kita ini, telah tersentuh oleh apa? Oleh siapa? Tidakkah rasanya kita terlalu sombong untuk mengandalkan hati kita sendiri dalam memutuskan sesuatu, sementara hati kita ini pun juga bukan milik kita?

Bukankah ini saatnya meminta Dia menuntun hati kita kepada yang benar? Kita ini apa? Jika Ia kehendaki utk membelokkan hati kita, bukankah bisa kita sembah bahkan batu, bulan, atau celana dalam sekalipun? Tidak masuk akal, tapi pasti akan kita lakukan, jika hati sudah terbelok.

Dialah yang Maha membolak-balikkan hati, maka disitulah rasanya hadir urgensi bagi kita memintaNya untuk mencondongkan hati ini pada kebenaran.

I can't trust my own heart, it fooled me milillion times before. But He, He never did.

Komentar

Postingan Populer