Berkumpul dan Berpencar

Memang benar memulai sesuatu itu tidak sulit, yang sulit ya mempertahankannya. Sama seperti blog ini, entah berapa lama sudah terlantar hehe. Hidup saya pun sudah bergulir ke arah yang berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya. Saya sudah tidak bekerja part time di restoran lagi dikarenakan alasan-alasan yang mungkin akan saya buat sebagai tulisan sendiri sebab terlalu panjang kalau saya jabarkan di sini. Satu lagi, saya sekarang sedang di Indonesia!

Ini kepulangan saya yang pertama semenjak saya menetap di Sydney. Kepulangan ini bisa dibilang cukup mendadak sebenarnya, bukan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari sangat. Tiket baru dibeli sekitar 1.5 bulan sebelum pulang. Namun begitu, saya sangat bersemangat untuk pulang, sebab untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 8 tahun keluarga saya bisa berkumpul dalam formasi utuh. Maklum kita terbiasa terpencar. Sebelum saya ke Sydney, kakak saya di Mesir. Lalu adik-adik saya pun rata-rata di pedalaman pesantren :D

Tentang terpencar dan berkumpul, itulah yang ingin saya tulis kali ini. Ringan saja. Ada dua tipe keluarga di dunia. Yang satu senang (atau harus) berkumpul. Sedih, susah, senang, bagaimanapun caranya yang penting berkumpul. Tipe lainnya, perantau ke sana kemari. Satu anaknya merantau ke sana, satunya lagi ke mari. Bahkan terkadang bapaknya pun mencari nafkah di mana. Bertemu sesekali, di momen tertentu.

Tipe apapun, tidak ada yang salah. Lagi-lagi, bukan perihal salah atau benar. Terlalu sempit rasanya kalau segala sesuatu diklasifikasikan sebatas dua kelas itu. Toh masing-masingnya mempunyai kelebihan kekurangan sendiri.

Ikatan emosional antar anggota keluarga kumpul mungkin lebih erat dari keluarga pencar, namun bukan berarti keluarga pencar tidak saling rindu. Anggota keluarga pencar, terbiasa hidup masing-masing dan mandiri, tidak tergantung dengan anggota keluarga lainnya. Berjuang masing-masing dan biasanya berusaha hanya menunjukkan yang baiknya saja ketika berkumpul. Yang mana saja, semua hanya pilihan.

Jika merasa cukup dengan berkumpul, maka berkumpullah. Jika merasa kuat untuk berjuang di kejauhan, maka berjuanglah.

Jika kita memilih berkumpul, bijak rasanya kita simpan kebersamaan dalam relung jiwa tanpa mengeksposnya berlebihan. Barangkali, ada mereka yang memilih berpencar, tercabik hatinya. Jika kita memilih berpencar, bijak rasanya kita tundukkan pandang kita dari rasa berbangga atas nama kemandirian dan perjuangan, seolah mereka yang berkumpul adalah jiwa-jiwa lemah yang tak sanggup berdiri sendiri.

Namun pulanglah, karena dari jenis keluarga manapun kita berasal, akan tetap ada mereka yang merindukan kita.





NB. Segala tumpahan kata di blog ini, sejatinya tanpa niat menggurui siapapun, melainkan catatan pribadi yg ditulis murni sebagai sentilan bagi diri sendiri.

Komentar

Postingan Populer