Dengan atau Tanpa
Ini hari kedua lebaran di Indonesia. Saya masih ingat malam hari sebelum lebaran hari pertama, suami saya telpon dari Sydney dan tiba-tiba bertanya, "Kamu ga apa-apa lebaran tanpa aku? Ga usah didengerin ya kalo ada yang ngomong aneh-aneh nanti." Saya memang pulang 3 minggu lebih dulu dari suami. Saya hanya jawab, "Yaelah aku mah selow orangnya," sembari nyengar-nyengir seperti biasa meskipun dia ga bisa lihat juga.
Besoknya, ya begitulah. Persis seperti ramalan saya, kalau boleh pakai kosa kata itu. Kalau tidak boleh, saya ganti jadi dugaan. Persis. Serius, pertanyaan semua orang bisa sama loh ya. Cuma yang satu itu saja, tidak ada yang lain. Dari nenek-nenek, ibu-ibu, mamah-mamah muda, sampai anak muda, yang ditanya itu.
"Jadi gimana, udah isi?" sambil nyodorin tangannya ke perut saya yang langsung saya tangkis. Apa kabar lipetan lemak di perut nanti ketauan kan.
"Mana nihh hasilnya?" (hasil apa ya bu?)
"Ko belum ada yang digendong sih?" (yaa saya mau gendong ibu tapi ga kuat)
"Wuih gede banget sekarang, lagi isi ya?" (ini ngeselin sih, bawa2 ukuran badan)
Begitu deh. Saya yaa mesem-mesem gemes aja sambil nyelipin kata-kata, "Ih bu, itu mulu deh yang ditanya semua orang. Saya kan capek jawabnya," atau "Tanyanya yang laen kek bu,"
Eh mungkin mesem-mesem saya lebih ke najis sih daripada gemes. Tapi saya salut loh sama kehidupan sosial bermasyarakat di Indonesia. Bayangkan, dalam waktu beberapa detik saja, orang yang saya ga kenal bahkan bisa bertanya hal privasi tingkat tinggi seperti itu. Bayangkan lagi, harus sedekat apa saya sama bule untuk bisa tanya kehidupan pribadinya seperti itu.
Hebat loh ibu-ibu ini. Tapi saya lebih hebat sih, karena saya berhasil menahan diri ga jawab dengan nyolot atau nyegat ibu-ibu itu pas pulang di jalanan.
Lucu sih karena dari keseluruhan diri saya, yang ditanya hanya seputar fisik sama keberadaan momongan, padahal saya punya banyak topik lain yang lebih substansial untuk diobrolin. Tapi karena saya sudah benar-benar memprediksi, alhamdulillah ga sakit hati sama sekali. Cuma di akhir-akhir rada bosen juga ditanya pertanyaan yang sama seharian haha.
Saya jadi terbayang sama mereka-mereka para pasangan muda yang menghadapi pertanyaan yang sama. Apalagi yang bertahun-tahun menghadapinya. Saya beruntung tahun kemarin bisa ngumpet di Sydney. Semoga siapapun di luar sana yang ditubi pertanyaan serupa, bisa menertawakan saja. Hidup ini hanya senda gurau belaka ko. Dikasih ga dikasih, urusan Allah. Sekarang atau nanti, sama saja. Lagipula setiap orang memiliki keinginan dan rencana yang berbeda dalam hidup. Ada baiknya kita saling menghargai prioritas masing-masing. Keberadaan momongan juga kan cuma titipan, bukan hak kepemilikan yang patut dibanggakan, apalagi standar kesempurnaan hidup.
Yang mereka tidak tahu adalah, betapa bahagianya kita.
Dengan atau tanpa.
Dengan atau tanpa.
Maka jangan rusak dengan tanya.
Komentar
Posting Komentar