Es Podeng dan Es Pisang Ijo
Cerita ini sederhana, terlalu sederhana bahkan. Tapi saya senang hal-hal sederhana, yang di baliknya sarat makna. Bukan kok, tulisan ini bukan tentang review es pisang ijo dan es podeng hehe. Tapi cerita ini memang berawal dari kecintaan saya pada es podeng dekat rumah.
Setelah hampir 2 tahun jauh dari rumah dan akhirnya dapat kesempatan balik lagi, saya jadi teringat es podeng yang hampir tiap hari saya beli selepas pulang les dulu. Bukan es podeng istimewa dengan embel marketing sumawa, hanya abang yang ramah dengan gerobaknya, serta rasa asli tanpa inovasi namun berhasil membuat saya jatuh hati.
Hari itu, sehabis muter-muter seharian mencari barang naik motor, saya ajak suami untuk lewat ke tempat biasa si abang es podeng mangkal. Dia juga masih ingat tempatnya, karena awal-awal nikah dulu saya juga lumayan sering jajan es podeng itu. Nyam. Sepanjang jalan di otak saya sudah terbayang lapisan-lapisan esnya, paling atas ada kacang, mesis, dan susu. Disusul dengan lapisan es halus yang kata abangnya ini rahasia (padahal googling banyak sih resepnya), ketan item, potongan roti tawar, potongan alpukat, dan paling bawah butir-butir pink nyess yang saya tidak tahu namanya apa.
Tinggal beberapa meter lagi sampai ke tempat dulu abang es podeng biasa mangkal, kita melewati barisan gerobak abang roti bakar, abang tahu gejrot, dan abang es pisang ijo... Eh, sejak kapan ada es pisang ijo di sini? Pikir saya. Kita maju terus, loh mana abang es podengnya? Karena khawatir mungkin tadi terlewat, kita puter balik lagi ke abang roti bakar, abang tahu gejrot, abang es pisang ijo.. Yaaah benar ternyata, ini abang es pisang ijo mangkal di tempat dulu biasa es podeng. Dengan sedikit kecewa karena es podeng sudah menari-nari di kepala, akhirnya saya turun dari motor dan beli es pisang ijo untuk menghibur lidah dan hati. Gagal makan es podeng hari itu.
Seminggu kemudian, saya dan suami sedang berkeliling-keliling naik motor lagi. Hari itu panas luar biasa, tapi sama sih dengan hari-hari lainnya karena sepertinya Bekasi memang selalu panas. Tiba-tiba saya terbayang es pisang ijo.
"Pisang ijo yuk, seger nih kayanya," kata saya ke suami.
"Beuh boleh juga, yok dah," respon doi.
Tancap gas. Panas-panas begini mantaplah pasti. Lagi-lagi otak saya berimajinasi, kali ini es pisang ijo yang berdansa di kepala. Bayangkan es batunya, lapisan putih-putih yang asin nyoy, sirup pink, susu, dan pisang ijonya. Sandingkan dengan teriknya matahari, mana tahan kan?
Abang roti bakar, sudah terlewat. Abang tahu gejrot, sudah satu meter di belakang. Gerobak es pisang ijo sudah terlihat. Tapi kok, tulisannya es podeng?
Saya perhatikan gelasnya, display ketan itemnya, rotinya. Beneran ini es podeng. Saya turun dari motor, saya tanya si abang dengan nada penasaran tingkat tinggi.
"Bang, lah ini kemarin es pisang ijo di sini bukannya bang?"
"Oh iya mba, kemarin gantian sama pisang ijo. Sekarang dia pulang kampung." jelas si abang santai.
Endingnya? Saya beli es podeng hari itu. Bayangan es pisang ijo tetap sebagai bayangan.
Sampai perjalanan pulang, saya belum berhenti terkagum pada bagaimana hidup mengajarkan saya tentang hasrat. Begitulah, terkadang kita bernafsu menginginkan es podeng, namun pisang ijo yang kita dapat. Di saat kita menginginkan pisang ijo, es podenglah yang hadir. Tapi sebenarnya toh, saya mendapatkan keduanya, meski di waktu yang tertukar.
Hidup, dan Pencipta Hidup, mungkin ingin saya belajar bahwa hasrat tidak selalu bisa dituruti tepat waktu.
Bersabar sedikit, sesungguhnya ia akan terpenuhi. Jika ia memang hak kita.
Setelah hampir 2 tahun jauh dari rumah dan akhirnya dapat kesempatan balik lagi, saya jadi teringat es podeng yang hampir tiap hari saya beli selepas pulang les dulu. Bukan es podeng istimewa dengan embel marketing sumawa, hanya abang yang ramah dengan gerobaknya, serta rasa asli tanpa inovasi namun berhasil membuat saya jatuh hati.
Hari itu, sehabis muter-muter seharian mencari barang naik motor, saya ajak suami untuk lewat ke tempat biasa si abang es podeng mangkal. Dia juga masih ingat tempatnya, karena awal-awal nikah dulu saya juga lumayan sering jajan es podeng itu. Nyam. Sepanjang jalan di otak saya sudah terbayang lapisan-lapisan esnya, paling atas ada kacang, mesis, dan susu. Disusul dengan lapisan es halus yang kata abangnya ini rahasia (padahal googling banyak sih resepnya), ketan item, potongan roti tawar, potongan alpukat, dan paling bawah butir-butir pink nyess yang saya tidak tahu namanya apa.
Tinggal beberapa meter lagi sampai ke tempat dulu abang es podeng biasa mangkal, kita melewati barisan gerobak abang roti bakar, abang tahu gejrot, dan abang es pisang ijo... Eh, sejak kapan ada es pisang ijo di sini? Pikir saya. Kita maju terus, loh mana abang es podengnya? Karena khawatir mungkin tadi terlewat, kita puter balik lagi ke abang roti bakar, abang tahu gejrot, abang es pisang ijo.. Yaaah benar ternyata, ini abang es pisang ijo mangkal di tempat dulu biasa es podeng. Dengan sedikit kecewa karena es podeng sudah menari-nari di kepala, akhirnya saya turun dari motor dan beli es pisang ijo untuk menghibur lidah dan hati. Gagal makan es podeng hari itu.
Seminggu kemudian, saya dan suami sedang berkeliling-keliling naik motor lagi. Hari itu panas luar biasa, tapi sama sih dengan hari-hari lainnya karena sepertinya Bekasi memang selalu panas. Tiba-tiba saya terbayang es pisang ijo.
"Pisang ijo yuk, seger nih kayanya," kata saya ke suami.
"Beuh boleh juga, yok dah," respon doi.
Tancap gas. Panas-panas begini mantaplah pasti. Lagi-lagi otak saya berimajinasi, kali ini es pisang ijo yang berdansa di kepala. Bayangkan es batunya, lapisan putih-putih yang asin nyoy, sirup pink, susu, dan pisang ijonya. Sandingkan dengan teriknya matahari, mana tahan kan?
Abang roti bakar, sudah terlewat. Abang tahu gejrot, sudah satu meter di belakang. Gerobak es pisang ijo sudah terlihat. Tapi kok, tulisannya es podeng?
Saya perhatikan gelasnya, display ketan itemnya, rotinya. Beneran ini es podeng. Saya turun dari motor, saya tanya si abang dengan nada penasaran tingkat tinggi.
"Bang, lah ini kemarin es pisang ijo di sini bukannya bang?"
"Oh iya mba, kemarin gantian sama pisang ijo. Sekarang dia pulang kampung." jelas si abang santai.
Endingnya? Saya beli es podeng hari itu. Bayangan es pisang ijo tetap sebagai bayangan.
Sampai perjalanan pulang, saya belum berhenti terkagum pada bagaimana hidup mengajarkan saya tentang hasrat. Begitulah, terkadang kita bernafsu menginginkan es podeng, namun pisang ijo yang kita dapat. Di saat kita menginginkan pisang ijo, es podenglah yang hadir. Tapi sebenarnya toh, saya mendapatkan keduanya, meski di waktu yang tertukar.
Hidup, dan Pencipta Hidup, mungkin ingin saya belajar bahwa hasrat tidak selalu bisa dituruti tepat waktu.
Bersabar sedikit, sesungguhnya ia akan terpenuhi. Jika ia memang hak kita.
Kereen
BalasHapus