Kondangan, Nasi Padang, dan Hokben

Rezeki tidak pernah tertukar, begitulah konsep yang sering kita dengar di masyarakat. Tapi apa kita pernah melihat implementasi riil nya di lapangan? Cerita yang akan saya jabarkan kali ini kurang lebih merupakan jawaban retorika di atas. Kisah ini bukan tentang saya, Ummi yang mengalami ini dan menceritakan ke saya. Karena itu saya tidak akan memposisikan diri sebagai pelaku, melainkan orang ketiga serba tahu. Ada sedikit penyesuaiaan yang saya tambahkan agar kisahnya lebih mudah ditangkap.

Sebenarnya ini terjadi sudah cukup lama, beberapa bulan yang lalu. Saya juga sudah berencana menuliskannya sejak lama, tapi satu dan dua hal membuat saya sempat terlupa (baca: malas).

Suatu Sabtu, seperti akhir pekan pada umumnya, Ummi mendapat undangan pernikahan anak temannya. Undangan resepsi sekitar pukul 11 sampai 1 siang. Bertepatan dengan makan siang. Ummi berangkat dari rumah pukul 11 karena lokasi acara tidak terlalu jauh dari rumah.  Ah, makan di kondangan saja, begitu pikirnya kala itu. Tak dinyana jalanan yang biasanya lengang ternyata padat merayap. Alhasil, ummi tiba di undangan sudah pukul 12.30. Tiga puluh menit menjelang acara selesai. Ummi pun menyalami mempelai dan kedua orangtuanya.

Kriuk kriuk, begitulah bunyi perutnya yang telah diajak menerjang jarak dan kemacetan, menagih asupan. Namun rupanya, makanan catering sudah habis dan dirapihkan. Oh, belum rezeki. Tidak berapa lama setelah berbincang-bincang dengan tamu lain, Ummi pun pulang. Di jalan, beliau membeli nasi rames padang untuk dimakan di rumah. Di rumah sedang tidak ada orang, jadilah Ummi memang belum masak dan hanya beli satu bungkus.

Sesampainya di rumah, ternyata adik laki-laki saya datang. Haha, rupanya dia belum sempat makan. Nasi padang diberikanlah ke dia oleh Ummi tanpa memberitahu kalau beliau pun belum makan. Ummi beranjak untuk memasak di dapur, saat tiba-tiba kakak ipar saya mengetuk pintu rumah.

"Ummi, saya bawa hokben untuk ummi. Ummi sudah makan belum?"

Akhirnya Cinderella pun menikah dengan Sang pangeran dan hidup bahagia selamanya. Eh. Akhirnya Ummi makan siang dengan hokben hari itu, bukan catering kondangan ataupun nasi padang.

Konsep rezeki memang sangat unik. Terkadang kita mengira rencana kita akan berjalan lancar dan mendapat sesuai yang kita rencanakan, ternyata Allah sudah mempersiapkan skenario lain. Terkadang kita beranggapan bahwa apa yang ada di depan mata kita sudah pasti jadi milik kita, padahal bisa saja dalam sekejap berpindah ke tangan orang lain. Terkadang kita menganggap kita telah mendapatkan sesuatu, namun rupanya kita hanyalah perantara yang ditunjuk langit, dimana kita diminta menyalurkannya pada pihak lain.

Saya teringat Ummi selalu berpesan sejak saya kecil,

"Dalam hidup ini, ada hal-hal yang luput dan ada yang lekat. Yang terluput, kita ikhlaskan. Yang terlekat itulah, kita syukuri."

.
.

Komentar

Postingan Populer