Parasthesi dan Penyesalan
Semua orang pasti punya penyesalan, apa benar begitu? Saya selalu beranggapan bahwa penyesalan adalah bentuk lain dari dendam. Dendam pada keadaan, tidak dapat menerima kondisi saat ini dan mengharapkan sesuatu yang lain mungkin terjadi. Saya juga selalu berpikiran bahwa penyesalan adalah wujud tidak bertanggungjawab. Jika seseorang bertanggung jawab, dia tentu tidak perlu menyesal pada kondisi yang sedang dia hadapi, akan senantiasa bersyukur, dan berusaha mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi.
Terdengar sangat bijaksana dan naif bukan? Setidaknya itulah yang saya yakini sejak lama. Saya berupaya untuk tidak memiliki penyesalan, apapun itu. Rupanya, yang namanya keyakinan itu pasti diuji. Sama seperti iman. Keyakinan saya tentang tidak boleh adanya penyesalan, tengah diuji.
Saya mengalami sebuah kondisi bernama parasthesi. Itu adalah kondisi paska operasi, dimana efek anasthesi atau obat bius tidak sepenuhnya hilang. Saat kita dibius lokal, bagian tubuh yang dibius akan mati rasa atau ba'al (numb). Seiring dengan hilangnya efek bius, ia akan kembali normal. Namun rupanya ada kondisi dimana efek itu dapat bertahan hingga seumur hidup, itulah parasthesi.
Paresthesia is an abnormal sensation such as tingling, tickling, pricking, numbness or burning of a person's skin with no apparent physical cause. The manifestation of a paresthesia may be transient or chronic.
The most familiar kind of paresthesia is the sensation known as "pins and needles" or of a limb "falling asleep". A less well-known and uncommon but important paresthesia is formication, the sensation of bugs crawling underneath the skin.
Kondisi ini berawal dari operasi gigi bungsu atau wisdom teeth saya tiga bulan lalu. Gigi bungsu saya memang tumbuh tidak jelas, nungging sana sini membuat gigi lainnya terancam. Karena itu dokter menyarankan harus dicabut. Cabutnya hanya bisa dilakukan oleh dokter bedah mulut. Tahun lalu saya sudah pernah mencabut satu wisdom teeth saya dan tidak ada masalah sedikit pun. Sehari setelah operasi, saya telah kembali beraktivitas. Karena itulah 3 bulan lalu saya kembali ke RS yang sama untuk melakukan prosedur pencabutan yang kedua.
Disitulah semua dimulai. Rupanya operasi kedua ini lebih sulit, kata dokternya. Dikorek-korek 45 menit lamanya baru berhasil. Seperti operasi sebelumnya, daerah sekitar gigi yang akan dicabut diberi obat bius dan menjadi mati rasa.
Mati rasa itu sangat tidak nyaman. Bibir terasa tebal, gigi sekitar pun menjadi ngilu. Pada hari keempat dan kelima paska bedah, saya tidak bisa tidur sama sekali karena gigi lain sekitar sangat ngilu. Padahal wilayah yang dioperasi sudah terasa pulih. Singkat cerita, saya pun diberi berbagai obat untuk memulihkan kondisi syaraf saya. Dokternya pun bilang, paling lama sebulan sudah akan pulih. Tapi nyatanya sudah 3 bulan hingga saya menuliskan ini.
Setelah sebulan, saya mulai panik dan gugling mengenai kondisi ini. Saya juga bertanya pada sepupu yang menempuh pendidikan dokter gigi, dan ternyata kondisi ini dapat bertahan hingga seumur hidup. Bayangkan, seumur hidup dengan bibir dan dagu yang mati rasa!
Kecewa, pasti. Menyesalkah ? Sangat. Saya menyesal telah melakukan bedah. Saya menyesal tidak memilih dokter dengan benar. Saya menyesal telah melakukan prosedur yang membuat saya harus bersahabat dengan kondisi ini selama sisa hidup saya.
Di tengah kekecewaan dan penyesalan, ada seseorang bercerita pada saya tentang seorang wanita yang mendatangi Nabi Muhammad. Wanita itu sakit parah, dia minta didoakan agar sembuh oleh Nabi. Lalu Nabi bertanya,
"Apakah engkau ingin aku doakan dan sembuh, ataukah engkau ingin bersabar dan mendapat Syurga?"
Wanita itu pun memilih bersabar. Saya terhenyak. Untuk apa segala penyesalan yang saya bawa itu? Membawanya kemanapun tidak akan mengubah apapun. Menerimanya dan bersabar, malah mungkin berbuah indah.
Ya, lagipula sejak awal, penyesalan bukanlah kawan kita kan? Bersabar, maka bagimu indah.
.
Komentar
Posting Komentar