Komplain, piring, dan gelas
Bagi saya bekerja part time sebagai waitress di negeri orang memberikan banyak pelajaran. Saya menjadi lebih percaya diri untuk berbicara dengan orang asing, terutama dalam bahasa inggris. Saya memperhatikan adab atau tata cara mereka meminta tolong. Ketika saya menghampiri meja mereka, kalimat pertama yang mereka ucapkan selalu, "Hi, how are you?". Kemudian dilanjutkan dengan, "Can i have a ......... please?". Jika saya bertanya apakah mereka menginginkan ini atau itu, mereka akan menjawab dengan, "Yes, please." or "No, thanks".
Ketika saya pergi dari meja atau datang kembali mengantarkan makanan, mereka akan mengucapkan thank you berkali-kali sambil tersenyum menatap saya. Tulus, karena hangatnya sampai ke dada. Beberapa kali juga mereka tidak segan untuk memerintahkan anak mereka mengucapkan terima kasih dengan jelas di depan saya.
Yes, they are friendly. Tapi jangan coba-coba salah menulis docket, mereka akan komplain panjang. Bagaimanapun, memang hak customer untuk mendapatkan pesanan memuaskan, because they pay for it. Ini memberikan saya pelajaran, terkadang ketika saya di Indonesia, saya malas untuk komplain jika makanan salah atau tidak memuaskan. Kenapa? Sebab ribet. Dan entah kenapa budaya komplain tidak terlalu tumbuh. Jika kita komplain, customer lain akan melihat dengan tatapan yang seolah berarti, "Nih orang cerewet banget sih gitu aja dikomplain". Pun jika saya komplain, biasanya pihak restoran juga tidak menanggapi terlalu baik. Seringnya begitu, atau bisa jadi saya terlalu sensitif-plak.
Dengan customer yang mudah komplain ini juga saya belajar bagaimana cara menangani komplain. Tidak ada buku panduan, hanya belajar dari setiap kejadian yang ada.
Hal lain yang saya perhatikan adalah piring dan gelas. Saya baru menyadari ketika suatu hari salah seorang waitress tidak masuk. Tinggallah saya dan Nan (manager-red) yang berperan sebagai waitress. Kekurangan pasukan, ditambah pula hari itu semua 22 table selalu penuh.
Betis? Jangan ditanya kabarnya. Badan rasanya sudah seperti robot, bergerak super cepat. Jika ada customer datang, langsung menghampiri. Bel tanda makanan dari kitchen terdengar, langsung mengambil. Customer pergi, langsung menggapai tray untuk mengangkut piring-piring dan gelas.
Sepertinya para customer hari itu memahami kondisi cafe yang penuh dan kami yang kekurangan pasukan. Setiap kali saya hendak membereskan piring-piring selepas mereka pergi, saya temukan semua piring dan gelas telah tersusun rapi. Saya tidak menghabiskan waktu untuk merapikan lagi, tinggal angkut. Begitupula dengan meja dan kursi, saya temukan mereka kembali pada posisi semula seperti belum digunakan. Mungkin terdengar sepele, tapi hari itu hal sekecil itu membuat saya terharu.
Dan hari-hari berikutnya, saya kembali menemukan hal serupa. Membuat hari seseorang lebih mudah, ternyata tidak sulit kan?
Ketika saya pergi dari meja atau datang kembali mengantarkan makanan, mereka akan mengucapkan thank you berkali-kali sambil tersenyum menatap saya. Tulus, karena hangatnya sampai ke dada. Beberapa kali juga mereka tidak segan untuk memerintahkan anak mereka mengucapkan terima kasih dengan jelas di depan saya.
Yes, they are friendly. Tapi jangan coba-coba salah menulis docket, mereka akan komplain panjang. Bagaimanapun, memang hak customer untuk mendapatkan pesanan memuaskan, because they pay for it. Ini memberikan saya pelajaran, terkadang ketika saya di Indonesia, saya malas untuk komplain jika makanan salah atau tidak memuaskan. Kenapa? Sebab ribet. Dan entah kenapa budaya komplain tidak terlalu tumbuh. Jika kita komplain, customer lain akan melihat dengan tatapan yang seolah berarti, "Nih orang cerewet banget sih gitu aja dikomplain". Pun jika saya komplain, biasanya pihak restoran juga tidak menanggapi terlalu baik. Seringnya begitu, atau bisa jadi saya terlalu sensitif-plak.
Dengan customer yang mudah komplain ini juga saya belajar bagaimana cara menangani komplain. Tidak ada buku panduan, hanya belajar dari setiap kejadian yang ada.
Hal lain yang saya perhatikan adalah piring dan gelas. Saya baru menyadari ketika suatu hari salah seorang waitress tidak masuk. Tinggallah saya dan Nan (manager-red) yang berperan sebagai waitress. Kekurangan pasukan, ditambah pula hari itu semua 22 table selalu penuh.
Betis? Jangan ditanya kabarnya. Badan rasanya sudah seperti robot, bergerak super cepat. Jika ada customer datang, langsung menghampiri. Bel tanda makanan dari kitchen terdengar, langsung mengambil. Customer pergi, langsung menggapai tray untuk mengangkut piring-piring dan gelas.
Sepertinya para customer hari itu memahami kondisi cafe yang penuh dan kami yang kekurangan pasukan. Setiap kali saya hendak membereskan piring-piring selepas mereka pergi, saya temukan semua piring dan gelas telah tersusun rapi. Saya tidak menghabiskan waktu untuk merapikan lagi, tinggal angkut. Begitupula dengan meja dan kursi, saya temukan mereka kembali pada posisi semula seperti belum digunakan. Mungkin terdengar sepele, tapi hari itu hal sekecil itu membuat saya terharu.
Dan hari-hari berikutnya, saya kembali menemukan hal serupa. Membuat hari seseorang lebih mudah, ternyata tidak sulit kan?
Komentar
Posting Komentar