Saya di dalam kopi?

Mungkin saya belum pernah menyebutkan bahwa customer tempat saya part time didominasi oleh orang-orang tua. Tepat di sebelah kafe saya juga terdapat sebuah kafe dengan dekorasi interior kekinian. Sejauh pengamatan saya, kafe sebelah lebih diminati oleh anak-anak muda. Brand kafe sebelah adalah brand kafe yang cukup terkenal di Australia dan memiliki franchise dimana-mana. Interior yang keren, brand yang terkenal, harga menu yang lebih mahal, sepertinya cukup mengundang anak muda gaul untuk kongkow disana.

Sementara itu, kafe tempat saya bekerja lebih simpel. Interior? Fungsional, kalau tidak bisa dibilang sederhana. Brandnya tidak memiliki franchise dimana pun sebab pemilik kafe pun adalah chef disini. Kim sang chef sekaligus owner, adalah suami dari Nan (saya beberapa kali menyebut namanya di tulisan sebelumnya-red). Maka customer yang datang kebanyakan keluarga yang membawa anaknya, serta nenek-nenek dan kakek-kakek.

Mungkin kafe ini memang tidak outstanding dan eksklusif, tapi suasana ramah kental terasa. Dengan konsep kitchen yang sangat terbuka, semua staff kitchen bisa melihat customer yang datang. Tidak jarang Kim bertegur sapa dengan customer saat dia sedang memasak. Hari demi hari pun saya melihat ternyata rata-rata customer yang datang adalah pelanggan rutin. Mereka datang hampir setiap hari, entah untuk ngopi di pagi atau siang hari, ataupun makan siang. Bahkan beberapa kali saya dapati customer yang datang untuk ngopi di pagi hari, kemudian datang makan siang, dan datang lagi sore hari. Sedemikian setianya.

Saya pun mulai hafal wajah serta pesanan rutin mereka. Beberapa mulai juga saya hafal namanya. Ada Tracey dengan suara melengkingnya, Sam yang bisa menghabiskan waktu dua jam untuk setengah cangkir kopi, Omar dengan skimmed cappucinonya, serta Thariq dengan koran di tangan setiap pagi.

Adapula sepasang kakek nenek yang selalu memesan english breakfast tea dan green tea. Pertama kali saya bertemu mereka, saya bertanya apa yang hendak mereka pesan. Salah satu menjawab, "We're still waiting for Dad." Dad? Mereka saja sudah tua sekali, apalagi bapaknya. Dan beberapa menit kemudian, datang seorang kakek yang sudah sangat tua. Dia menggunakan tongkat untuk menopang tubuhnya yang sudah tidak terlalu tegap, namun juga tidak terlalu bungkuk. Delapan puluh tahun pun pasti ada usianya. Hari-hari berikutnya, sepasang kakek nenek dan ayahnya ini selalu hadir menghiasi hari kerja saya.

Banyak juga datang kakek-kakek seorang diri. Suatu hari, seorang kakek memanggil saya. 
"Hi sweetheart, can i have a skimmed cappucino please?"
"Sure, anything else you wanna have?"
"Please put 2 sugar inside for me."
"Okayy." 
"Thank you."
"No worries."

Beberapa menit kemudian,
"Here's your skimmed cappucino, Sir."
"Excellent, thank you. Did you put sugar into it already?"
"Yes i did." 
Kakek tersebut mulai menyeruput kopinya, saya pun beranjak meninggalkan mejanya. Baru beberapa langkah, dia memanggil lagi. Duh, ada apa nih? Jangan-jangan mau komplain, pikir saya.
"Sorry, but are you sure you put sugar already?"
"Yes i'm sure. Two sugar as you requested. Is that not sweet enough?"
"No, not as sweet as you. Can i have you inside my coffee?"

Hah? Maksudnya?

"Sorry, Sir?"
"I wanna have you inside my coffee instead of sugar, is that possible?" katanya sembari menunjuk saya dan cangkir kopinya secara bergantian.

Well well well, rupanya saya sedang digombali oleh kakek-kakek! 

Komentar

Postingan Populer