Kali dua pun, mudah saja
Ini cerita masih bersambung dari yang sebelumnya. Saya seperti pendongeng, tapi hidup terkadang memang seperti dongeng. Terlalu banyak hal-hal tak terduga dan sarat makna yang sayang jika dibiarkan terhapus dalam memori manusia yang terbatas. Khususnya saya. Sebab itulah merekamnya dalam kata menjadi penting.
Balik pada cerita, saya akhirnya mendapat pekerjaan di sebuah restoran baru. Restoran ini besar, cabangnya ada 30 di Sydney dan beberapa kota lain di Australia. Dalam cerita saya, saya akan memberinya julukan, Restoran Halal Penyelamat Hidup. Pemiliknya adalah Malek, seorang pria berusia 40 tahunan keturunan Lebanon. Head Chef dan Sous Chef berasal dari Mesir.
Soal kehalalan, saya tidak meragukan. Setiap waktu sholat tiba, para chef bergantian break untuk sholat. Iya, di Sydney loh ini. Di minggu pertama saya bekerja, saya langsung merasa aman. Saya tidak perlu curi-curi waktu untuk sholat.
Di minggu kedua, otak nekat saya tiba-tiba bekerja lagi. Saya teringat suami saya yang notabene student di sini. Dia bekerja part time sebagai kitchen staff di sebuah pizza & salad restoran. Saya belum pernah mengungkapkan ini di cerita-cerita sebelumnya. Tapi restoran tempat Bang Itah bekerja, tidak halal.
Beberapa kali kita mencoba mencari pekerjaan part time lain untuknya tapi belum ada yang cocok. Namun hari itu, jiwa nekat merasuki saya. Jeng jeng.
Saya hampiri Malek sambil senyum-senyum. Dia langsung tahu, anak ini ada maunya.
"Tell me Aisha, what do you want?"
"Noo Malek, i just wanna ask you. Is there any position available in the kitchen?"
"What do you mean? For who?"
"For my husband, he's bla bla bla bla. . ."
Saya jelaskan pengalamannya, dan kenapa kita mencari pekerjaan baru. Karena mencari yang halal.
Namanya juga nekat, saya tidak berekspektasi banyak. Eh, ternyata, Malek tertarik dan meminta suami saya untuk datang besok malamnya.
Malamnya, terkaget-kagetlah Bang Itah hahaha, sebab meskipun kita memang mencari pekerjaan lain untuknya, tapi dia tidak terpikir dengan Restoran Halal Penyelamat Hidup. Belum lagi perizinan dengan tempat kerja lama, bagaimana kalau tiba-tiba keluar.
Saat itu saya hanya bilang, "Dicoba aja dulu, siapa tau ini jalannya dari Allah loh. Kan selama ini kita nyari-nyari yang halal."
Dan seterusnya dan seterusnya, suami saya bertemu Malek. Dia juga diminta untuk trial, dan if the chefs love his work, he's gonna get the job obviously. Saya di sana saat dia trial, saya di floor, dia di kitchen. Sebentar-sebentar saya mengintip. Ajaib, semua seperti lancar saja.
Dan, he also got the job! Semudah itu !
Pertama saya, kemudian suami saya.
Jadi, apalagi sekarang? Kali dua pun, mudah saja kan bagi Dia?
Dia Dia Dia.
Balik pada cerita, saya akhirnya mendapat pekerjaan di sebuah restoran baru. Restoran ini besar, cabangnya ada 30 di Sydney dan beberapa kota lain di Australia. Dalam cerita saya, saya akan memberinya julukan, Restoran Halal Penyelamat Hidup. Pemiliknya adalah Malek, seorang pria berusia 40 tahunan keturunan Lebanon. Head Chef dan Sous Chef berasal dari Mesir.
Soal kehalalan, saya tidak meragukan. Setiap waktu sholat tiba, para chef bergantian break untuk sholat. Iya, di Sydney loh ini. Di minggu pertama saya bekerja, saya langsung merasa aman. Saya tidak perlu curi-curi waktu untuk sholat.
Di minggu kedua, otak nekat saya tiba-tiba bekerja lagi. Saya teringat suami saya yang notabene student di sini. Dia bekerja part time sebagai kitchen staff di sebuah pizza & salad restoran. Saya belum pernah mengungkapkan ini di cerita-cerita sebelumnya. Tapi restoran tempat Bang Itah bekerja, tidak halal.
Beberapa kali kita mencoba mencari pekerjaan part time lain untuknya tapi belum ada yang cocok. Namun hari itu, jiwa nekat merasuki saya. Jeng jeng.
Saya hampiri Malek sambil senyum-senyum. Dia langsung tahu, anak ini ada maunya.
"Tell me Aisha, what do you want?"
"Noo Malek, i just wanna ask you. Is there any position available in the kitchen?"
"What do you mean? For who?"
"For my husband, he's bla bla bla bla. . ."
Saya jelaskan pengalamannya, dan kenapa kita mencari pekerjaan baru. Karena mencari yang halal.
Namanya juga nekat, saya tidak berekspektasi banyak. Eh, ternyata, Malek tertarik dan meminta suami saya untuk datang besok malamnya.
Malamnya, terkaget-kagetlah Bang Itah hahaha, sebab meskipun kita memang mencari pekerjaan lain untuknya, tapi dia tidak terpikir dengan Restoran Halal Penyelamat Hidup. Belum lagi perizinan dengan tempat kerja lama, bagaimana kalau tiba-tiba keluar.
Saat itu saya hanya bilang, "Dicoba aja dulu, siapa tau ini jalannya dari Allah loh. Kan selama ini kita nyari-nyari yang halal."
Dan seterusnya dan seterusnya, suami saya bertemu Malek. Dia juga diminta untuk trial, dan if the chefs love his work, he's gonna get the job obviously. Saya di sana saat dia trial, saya di floor, dia di kitchen. Sebentar-sebentar saya mengintip. Ajaib, semua seperti lancar saja.
Dan, he also got the job! Semudah itu !
Pertama saya, kemudian suami saya.
Jadi, apalagi sekarang? Kali dua pun, mudah saja kan bagi Dia?
Dia Dia Dia.
Komentar
Posting Komentar