Dua tipe manusia, edisi please dan thank you
Selalu ada dua tipe manusia di dunia. Sebagaimana dua tipe pemakan bubur, satu tipe senang untuk mengaduknya. Sementara tipe lain membiarkannya tidak teraduk dan memakan tiap bagian sendiri-sendiri. Saya termasuk tipe kedua. Suami saya, tipe pertama. Tidak hanya bubur, prototipe ini terjadi juga pada es doger, es campur, es teler, dan berbagai jenis makanan yang disajikan dalam layer-layer. Antar tipe saling tidak mengerti bagaimana bisa tipe lainnya makan seperti itu. Bagi saya, makan ya sedikit demi sedikit tiap bagian agar setiap sendokan rasanya bervariasi. Bagi suami saya, kalau tidak diaduk, bagaimana kita bisa mendapat rasa yang sebenarnya?
Dua tipe manusia lain, adalah dalam hal mengatakan "please", dan "thank you".
Headchef saya, sebut saja namanya Billy, adalah seorang keturunan Mesir yang telah malang melintang di dunia perkulineran selama 17 tahun. Dia pernah bekerja di Amerika 7 tahun, di Malaysia sekian tahun, dan berbagai tempat lainnya. Suaranya lantang, tawanya menggelegar. Badannya besar, tegap, geraknya cepat.
Billy mengajarkan saya banyak hal tentang dunia kitchen, di balik suaranya yang lantang dan terkesan menakutkan pada awalnya, sesugguhnya dia sosok headchef yang peduli terhadap anak buahnya. Lengannya penuh luka-luka, mulai dari terpotong dan terbakar. Menunjukkan pengalamannya di kitchen.
Dua hari lalu, saya sedang membuat chicken caesar salad. Saya sudah hampir menyelesaikan order itu, hanya tinggal meminta chicken dari section lain. Karena chicken tersebut harus di grill, saya harus meminta pada orang yang stand by di section itu, sebut saja namanya Mooh. Billy datang dan melihat saya butuh chicken, dia segera berteriak,
" Mooh! Give aisyah one serving of chicken, now!"
Saya, karena terbiasa meminta dengan kata "please", refleks berkata,
"Yes, chicken please Mooh."
Billy menengok pada saya,
"No! No! No please. I dont say please."
"Why chef?"
"I don't please people. What you say please for? Dont expect me to say please to anyone. That's no point on saying it. Especially when you get paid for doing it, why should i say please?"
"Isn't that what we call attitude, chef?" saya terpancing untuk mendebat. Bukan untuk menentangnya, sebatas untuk menunjukkan pendapat saya. Ditambah, Billy memang tipikal orang yang senang berdebat dan karena saya sedang tidak sibuk, saya menganggapnya sebagai hiburan. Haha.
"No, it's not about attitude. Look, Mooh is getting money by doing his job. So it's his duty to do that. We don't even need to say thank you all the time." Billy mulai bersemangat.
"But what about the customer chef? They're paying their food, shouldn't they say please and thank you either to us for serving them the food?"
Ting nong. Haha. Suasana kitchen makin ramai, sous chef saya, Sammy, malah semakin mengompori perdebatan kami.
"Yess go aisyah go!"
Billy semakin bersikeras dengan pendapatnya dan berusaha mempengaruhi saya, sampai akhirnya saya tutup,
"Okay chef if that so, we have a completely different opinions then. But sorry, i will still say please whenever i asked someone to do something for me, eventhough they get paid for it."
Kami tertawa, dan saya bilang,
"I am sorry chef, i'm just having fun arguing you, you know."
"Like obviously aisyah!"
Kami kembali tertawa. Dibalik tawa, saya berpikir. Saya tidak menghakimi bahwa dia salah dengan pendiriannya yang seperti itu. Saya pun tidak memaksakan dia untuk mengatakannya, sama seperti saya ingin dia tidak memaksakan saya untuk tidak mengatakannya. Dan sekarang pun itu akhirnya menjadi candaan. Ketika dia menyuruh saya sesuatu, saya sering timpali, "please".
Lagi-lagi, dua tipe manusia di dunia.
"But what about the customer chef? They're paying their food, shouldn't they say please and thank you either to us for serving them the food?"
Ting nong. Haha. Suasana kitchen makin ramai, sous chef saya, Sammy, malah semakin mengompori perdebatan kami.
"Yess go aisyah go!"
Billy semakin bersikeras dengan pendapatnya dan berusaha mempengaruhi saya, sampai akhirnya saya tutup,
"Okay chef if that so, we have a completely different opinions then. But sorry, i will still say please whenever i asked someone to do something for me, eventhough they get paid for it."
Kami tertawa, dan saya bilang,
"I am sorry chef, i'm just having fun arguing you, you know."
"Like obviously aisyah!"
Kami kembali tertawa. Dibalik tawa, saya berpikir. Saya tidak menghakimi bahwa dia salah dengan pendiriannya yang seperti itu. Saya pun tidak memaksakan dia untuk mengatakannya, sama seperti saya ingin dia tidak memaksakan saya untuk tidak mengatakannya. Dan sekarang pun itu akhirnya menjadi candaan. Ketika dia menyuruh saya sesuatu, saya sering timpali, "please".
Lagi-lagi, dua tipe manusia di dunia.
Komentar
Posting Komentar