Uang ya angka
Hidup di negara orang dengan mata uang yang berbeda, membuat saya sering kali merasa nilai uang itu tidak adil.
Dulu saya lulusan UI, kampus nomor satu di Indonesia (sabar, ini bukan lagi mau sombong, tapi mau komparasi). Saya kuliah di jurusan arsitektur interior, yang tugasnya seabrek-abrek membuat saya harus begadang. Ketika saya dan teman-teman lain lulus dan bekerja, gaji yang kami dapatkan kira-kira sekitar 4-6 juta per bulan. Sementata itu teman-teman lulusan metalurgi, mesin, dkk, bisa mendapat 10 juta ke atas. Bahkan 20 juta ke atas per bulan kalau bekerja pada perusahaan minyak asing (gaji dalam dolar).
Saya sih hepi-hepi aja saat itu, karena saya pikir bekerja tidak selalu berorientasi pada uang. Tapi karya. Dulu ya.
Setelah saya tinggal di Sydney, barulah saya memahami ketidak adilan sang uang di dunia ini. Semua yang saya kumpulkan dulu di Indonesia, tinggal receh di sini. Oh no. Sebagai gambaran :
1. Saya dan suami menyewa sebuah granny flat berisi 1 bedroom, 1 bathroom, 1 kitchen dengan harga $210/week. Itu harga amat sangat terendah di sini loh. Kita mencoba mencari-cari, sudah tidak ada lagi yang menyewakan dengan nominal segitu. Itu artinya 2,1 juta per minggu. 8,4 juta per bulan untuk kosan !
Update 2018: We now rent a different place. Some sort of unit with 1 bedroom, 1 kitchen, 1 bathroom. It costs us $330/week in a suburb area. Well.
2. Sekali makan di luar, paling murah $15/ orang. Kalau dua orang, 300ribu. Berapa juta seminggu untuk makan ? Itulah kenapa kita belajar masak, hahahaha.
3. Harga properti, rumah atau apartemen di wilayah suburb, mulai dari $400.000-$700.000+++. Yes, 4 miliar paling murah !
Untungnya, penghasilan tidak seperti di Indonesia. Sebagai gambaran, saya berdiskusi dengan seorang mahasiswa keturunan India yang telah lama tinggal di sini. Dia bekerja sebagai pencuci piring di restoran. Berapa gajinya? $15/jam. Kalau sehari dia bekerja 8 jam dan seminggu 5 hari, maka dalam seminggu dia berpenghasilan $600 alias 6 juta! Sebulan? Silakan kalikan empat. Dan ternyata, itu juga tergolong gaji yang sangat minim di sini.
Lalu saya teringat teman yang bekerja pada perusahaan minyak asing di Indonesia, yang gajinya $2.000 (20 juta) sebulan (fresh graduate), yang gajinya dalam dolar. Upssss ternyata kita masih hanya dibayar receh oleh asing! Kalau sudah dolar, harusnya mungkin teman saya sebagai lulusan UI bisa mendapat $7.000/ bulan. Pencuci piring saja $2.400 sebulan. Maaf, saya bukan sedang mendiskreditkan pencuci piring loh yaa.
Mind blowing memang, tapi ah sudahlah. Selama kita merasa cukup, selalu diberkahi dengan kesehatan badan dan pikiran, itu semua hanyalah angka yang tidak menentukan kebahagiaan.
Or is it? Hmmm..
*semua satuan dolar, dalam dolar australia. Dengan asumsi $1=Rp10.000,-
Dulu saya lulusan UI, kampus nomor satu di Indonesia (sabar, ini bukan lagi mau sombong, tapi mau komparasi). Saya kuliah di jurusan arsitektur interior, yang tugasnya seabrek-abrek membuat saya harus begadang. Ketika saya dan teman-teman lain lulus dan bekerja, gaji yang kami dapatkan kira-kira sekitar 4-6 juta per bulan. Sementata itu teman-teman lulusan metalurgi, mesin, dkk, bisa mendapat 10 juta ke atas. Bahkan 20 juta ke atas per bulan kalau bekerja pada perusahaan minyak asing (gaji dalam dolar).
Saya sih hepi-hepi aja saat itu, karena saya pikir bekerja tidak selalu berorientasi pada uang. Tapi karya. Dulu ya.
Setelah saya tinggal di Sydney, barulah saya memahami ketidak adilan sang uang di dunia ini. Semua yang saya kumpulkan dulu di Indonesia, tinggal receh di sini. Oh no. Sebagai gambaran :
1. Saya dan suami menyewa sebuah granny flat berisi 1 bedroom, 1 bathroom, 1 kitchen dengan harga $210/week. Itu harga amat sangat terendah di sini loh. Kita mencoba mencari-cari, sudah tidak ada lagi yang menyewakan dengan nominal segitu. Itu artinya 2,1 juta per minggu. 8,4 juta per bulan untuk kosan !
Update 2018: We now rent a different place. Some sort of unit with 1 bedroom, 1 kitchen, 1 bathroom. It costs us $330/week in a suburb area. Well.
2. Sekali makan di luar, paling murah $15/ orang. Kalau dua orang, 300ribu. Berapa juta seminggu untuk makan ? Itulah kenapa kita belajar masak, hahahaha.
3. Harga properti, rumah atau apartemen di wilayah suburb, mulai dari $400.000-$700.000+++. Yes, 4 miliar paling murah !
Untungnya, penghasilan tidak seperti di Indonesia. Sebagai gambaran, saya berdiskusi dengan seorang mahasiswa keturunan India yang telah lama tinggal di sini. Dia bekerja sebagai pencuci piring di restoran. Berapa gajinya? $15/jam. Kalau sehari dia bekerja 8 jam dan seminggu 5 hari, maka dalam seminggu dia berpenghasilan $600 alias 6 juta! Sebulan? Silakan kalikan empat. Dan ternyata, itu juga tergolong gaji yang sangat minim di sini.
Lalu saya teringat teman yang bekerja pada perusahaan minyak asing di Indonesia, yang gajinya $2.000 (20 juta) sebulan (fresh graduate), yang gajinya dalam dolar. Upssss ternyata kita masih hanya dibayar receh oleh asing! Kalau sudah dolar, harusnya mungkin teman saya sebagai lulusan UI bisa mendapat $7.000/ bulan. Pencuci piring saja $2.400 sebulan. Maaf, saya bukan sedang mendiskreditkan pencuci piring loh yaa.
Mind blowing memang, tapi ah sudahlah. Selama kita merasa cukup, selalu diberkahi dengan kesehatan badan dan pikiran, itu semua hanyalah angka yang tidak menentukan kebahagiaan.
Or is it? Hmmm..
*semua satuan dolar, dalam dolar australia. Dengan asumsi $1=Rp10.000,-
Komentar
Posting Komentar