Sebegitu harusnyakah jalan-jalan?
Tulisan ini berawal dari obrolan ringan dengan landlord saya yang keturunan vietnam, jenny namanya. Jenny memiliki 3 orang anak. Anak terbesarnya sudah berumur 22 tahun, beda dua tahun dengan saya. Sebut saja nama anaknya Mei.
Si Mei ini sudah lulus sekolah dan diploma farmasi, sekarang bekerja di sebuah klinik. Jenny sering bercerita pada saya tentang anaknya ini, berapa penghasilannya seminggu, dan sebagainya.
Sore itu, Jenny mengetuk pintu granny flat saya untuk memberikan sebungkus roti tawar. Dari situlah perbincangan ringan mulai mengalir, sebab selama ini saya sudah mulai sibuk, sehingga hampir tidak pernah berbincang dengannya lagi. Jenny bercerita bahwa dia ingin membuatkan sebuah klinik untuk Mei tahun depan.
"We're planning to build her own clinic, aisya."
"Owh really? That's very good Jenny."
"Yes, but it's so expensive. We don't know where to start."
"I know, everything's expensive here."
Jenny bilang, mereka akan mulai berhemat agar rencana ini bisa terlaksana. Kemudian dia sekelebat menunjukkan wajah kecewa. Setelah saya tanya, berceritalah dia bahwa justru Mei merencanakan untuk pergi jalan-jalan ke Amerika bulan depan dengan teman-temannya, dan hendak mengajak Jenny ke Jepang setelahnya.
Saya awalnya belum peka dan refleks berkata,
"That's really good, let her explores the world while she's still young, you know."
Tapi setelahnya, saya menyesali apa yang saya katakan. Saya merenungi perkataan Jenny kemudian seperti saya sedang berhadapan dengan ibu saya sendiri.
"Aisya, i know it's her money. I know she can earns a lot of money now. And you know what. I've never ever asked her anything, i've never asked her to help me pay the bills, or anything else. "
"She told me she's gonna take me to Japan, but, i dont know. She spends her money on buying a new fancy sport car again. And i've never touched her money. I will never do. She's still living in my house, and i pay everything for her. But at least, i just want her to save her money, you know. For her future." Jenny melanjutkan.
Hening. Saya teringat Ummi.
Ibu memang tidak pernah meminta apapun dari kita, ya kan? Kita yang sudah berpenghasilan inilah yang harusnya tau diri. Mana yang lebih penting, jalan-jalan dengan teman demi dibilang so-called-traveller, atau menabung untuk masa depan?
Saya tahu sebagian orang berpendapat jalan-jalan atau menjelajah adalah hal yang harus kita lakukan dalam hidup. Better to have a journey than saving heaps money for nothing and regret it later. Itu yang mereka bilang. Tapi coba lihat, tolong lihat, apakah orang tua kita sudah tercukupi kebutuhannya?
Saya jadi terpikir, kita baru punya sedikit uang saja belagu. Pengen menginjakkan kaki ke semua tempat. Pernahkah terpikir kalau sebenarnya orangtua kita dulu juga ingin jalan-jalan, tapi mereka MENYIMPAN UANG MEREKA DEMI MASA DEPAN KITA?
Tidak bisakah kita membantu mereka membayar bill, atau mengajak mereka jalan-jalan bersama, kalau memang kita sangat amat harus ngebet banget pengen dibilang traveller sambil upload foto jalan-jalan di instagram?
You choose.
Si Mei ini sudah lulus sekolah dan diploma farmasi, sekarang bekerja di sebuah klinik. Jenny sering bercerita pada saya tentang anaknya ini, berapa penghasilannya seminggu, dan sebagainya.
Sore itu, Jenny mengetuk pintu granny flat saya untuk memberikan sebungkus roti tawar. Dari situlah perbincangan ringan mulai mengalir, sebab selama ini saya sudah mulai sibuk, sehingga hampir tidak pernah berbincang dengannya lagi. Jenny bercerita bahwa dia ingin membuatkan sebuah klinik untuk Mei tahun depan.
"We're planning to build her own clinic, aisya."
"Owh really? That's very good Jenny."
"Yes, but it's so expensive. We don't know where to start."
"I know, everything's expensive here."
Jenny bilang, mereka akan mulai berhemat agar rencana ini bisa terlaksana. Kemudian dia sekelebat menunjukkan wajah kecewa. Setelah saya tanya, berceritalah dia bahwa justru Mei merencanakan untuk pergi jalan-jalan ke Amerika bulan depan dengan teman-temannya, dan hendak mengajak Jenny ke Jepang setelahnya.
Saya awalnya belum peka dan refleks berkata,
"That's really good, let her explores the world while she's still young, you know."
Tapi setelahnya, saya menyesali apa yang saya katakan. Saya merenungi perkataan Jenny kemudian seperti saya sedang berhadapan dengan ibu saya sendiri.
"Aisya, i know it's her money. I know she can earns a lot of money now. And you know what. I've never ever asked her anything, i've never asked her to help me pay the bills, or anything else. "
"She told me she's gonna take me to Japan, but, i dont know. She spends her money on buying a new fancy sport car again. And i've never touched her money. I will never do. She's still living in my house, and i pay everything for her. But at least, i just want her to save her money, you know. For her future." Jenny melanjutkan.
Hening. Saya teringat Ummi.
Ibu memang tidak pernah meminta apapun dari kita, ya kan? Kita yang sudah berpenghasilan inilah yang harusnya tau diri. Mana yang lebih penting, jalan-jalan dengan teman demi dibilang so-called-traveller, atau menabung untuk masa depan?
Saya tahu sebagian orang berpendapat jalan-jalan atau menjelajah adalah hal yang harus kita lakukan dalam hidup. Better to have a journey than saving heaps money for nothing and regret it later. Itu yang mereka bilang. Tapi coba lihat, tolong lihat, apakah orang tua kita sudah tercukupi kebutuhannya?
Saya jadi terpikir, kita baru punya sedikit uang saja belagu. Pengen menginjakkan kaki ke semua tempat. Pernahkah terpikir kalau sebenarnya orangtua kita dulu juga ingin jalan-jalan, tapi mereka MENYIMPAN UANG MEREKA DEMI MASA DEPAN KITA?
Tidak bisakah kita membantu mereka membayar bill, atau mengajak mereka jalan-jalan bersama, kalau memang kita sangat amat harus ngebet banget pengen dibilang traveller sambil upload foto jalan-jalan di instagram?
You choose.
Mencerahkan
BalasHapus